Tempat Tinggal Yang Luas

Yang dimaksud tempat tinggal yang luas adalah tempat tinggal yang banyak memberi manfaat bagi penghuninya, yang membuat hati penghuninya menjadi
lapang dan tidak sempit. Karena, sempitnya dada akan menghalangi dari berbagai macam kebaikan. Sehingga standar luasnya suatu tempat tinggal berbeda antara satu orang dengan orang lain. Sebab, terkadang luas bagi seseorang, namun sempit bagi yang lain atau sebaliknya.

Sementara rumah yang sempit umumnya akan membuat hati terasa sempit, menciptakan kegelisahan dan menyibukkan pikiran. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berdoa di suatu malam seraya berkata:

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذَنْبِي وَوَسِّعْ لِي فِي دَارِي وَبَارِكْ لِي فِيمَا رَزَقْتَنِي

“Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku, berilah keluasan bagiku dalam rumahku dan berkahilah rezeki yang Engkau berikan kepadaku.” (HR. at-Tirmidzi dalam Sunannya no. 3500. Hadits hasan).

Namun keluasan rumah tergantung kepada keluasan hati seorang hamba. Jika ia bersyukur dengan rumah yang diberikan kepadanya, bagaimanapun ukurannya, maka ia selalu merasakan lapang. Tak heran bila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan rumah yang begitu sederhana, tapi beliau merasakan kebahagiaan dan kelapangan, karena hati beliau lapang dan selalu bersyukur terhadap pemberian Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Seorang tabi’in yang bernama Dawud bin Qais al-Farra’ berkata:

رَأيتُ الحُجراتِ مِن جَريدِ النَّخلِ مُغَشَّاة مِن خَارجٍ بِمُسُوح الشَّعْرِ، وَأظُنُ عَرْضَ البَيتِ مِن بَاب الحُجرةِ إِلَى بَاب البيتِ نَحْوًا مِن سِتِ أَو سبعِ أَذرعٍ، وأحْزِرُ البيتَ الدَّاخِلَ عَشْرَ أَذرعٍ، وأَظنُّ سُمكَهُ بَين الثَّمانِ والسَّبْعِ نَحوَ ذَلك، ووقَفتُ عِند بَاب عَائشةَ فَإذا هُو مُستَقبِلُ المَغربِ

“Aku telah lihat rumah-rumah (milik istri Rasulullah) yang terbuat dari pelepah kurma dalam keadaan tertutup dari luar dengan jalinan bulu. Aku perkirakan lebar rumah beliau dari pintu kamar sampai pintu rumah sekitar enam sampai tujuh hasta. Aku ukur rumah beliau dari dalam sekitar 10 hasta. Aku perkirakan tingginya antara delapan dan tujuh sekisaran itu. Aku berdiri di pintu A’isyah, ternyata pintunya menghadap ke barat.” (HR. al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad no. 451. Hadits shahih).

Seseorang boleh saja memperluas ukuran rumahnya sesuai hajat dengan cara yang dibenarkan agama. Namun, perlu dipahami bahwa keimanan dan amal saleh merupakan asas kebahagiaan dunia dan akhirat. Karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam walaupun dengan kehidupan yang sederhana tersebut, namun beliau adalah manusia yang paling bahagia hidupnya. Jadi, luas sempitnya rumah bukanlah ukuran hakiki kebahagian bagi seorang hamba!!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Mulai Konsultasi
Assalamualaikum, Ada yang bisa kami bantu?