Bulan Ramadhan

Sesungguhnya bulan Ramadhan datang kepada kita sebagai tamu yang sangat murah hati. Ia akan memuliakan kita, jika kita memuliakannya. Sehingga terwujudlah dengan kedatangannya itu, banyak berkah dan kebaikan. Dia datang kepada kita, kemudian mempersembahkan berbagai bingkisan dan pemberian kepada kita. Dia adalah tamu, tapi ia yang menjamu. Dan bisa jadi, seseorang dari kita berada dalam jamuan Ramadhan untuk yang terakhir kalinya. Atau barangkali Ramadhan datang sebagai tamu kepada selain kita dalam waku yang tidak lama, maka mengapa kita tidak memuliakan tamu kita ini?!. Mengapa kita tidak berusaha meraih pemberian-pemberian yang di bawa oleh tamu kita tersebut.

Sesungguhnya sambutan kita terhadap Ramadhan, seperti sambutan orang yang berpamitan yang sangat memanfaatkan kesempatan terakhirnya, tidaklah menafikan penyambutan kita terhadapnya dalam kondisi gembira dan bahagia. Karena Nabi senantiasa menggembirakan para Sahabat dengan bulan Ramadhan. Yaitu agar mereka rindu kepada berkah-berkahnya, rindu terhadap rahmat-rahmat yang turun pada setiap saat dan detik-detiknya. Beliau bersabda kepada mereka :

ﻗَﺪْ ﺟَﺎﺀَﻛُﻢْ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥُ، ﺷَﻬْﺮٌ ﻣُﺒَﺎﺭَﻙٌ، ﺍﻓْﺘَﺮَﺽَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺻِﻴَﺎﻣَﻪُ، ﺗُﻔْﺘَﺢُ ﻓِﻴﻪِ ﺃَﺑْﻮَﺍﺏُ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ، ﻭَﺗُﻐْﻠَﻖُ ﻓِﻴﻪِ ﺃَﺑْﻮَﺍﺏُ ﺍﻟْﺠَﺤِﻴﻢِ، ﻭَﺗُﻐَﻞُّ ﻓِﻴﻪِ ﺍﻟﺸَّﻴَﺎﻃِﻴﻦُ، ﻓِﻴﻪِ ﻟَﻴْﻠَﺔٌ ﺧَﻴْﺮٌ ﻣِﻦْ ﺃَﻟْﻒِ ﺷَﻬْﺮٍ، ﻣَﻦْ ﺣُﺮِﻡَ ﺧَﻴْﺮَﻫَﺎ ﻓَﻘَﺪْ ﺣُﺮِﻡَ

 “Telah datang kepada kalian Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan atas kalian berpuasa padanya. Pintu-pintu surga dibuka padanya. Pintu-pintu Jahim (neraka) ditutup. Setan-setan dibelenggu. Di dalamnya terdapat sebuah malam yang lebih baik dibandingkan 1000 bulan. Siapa yang dihalangi dari kebaikannya, maka sungguh ia terhalangi.”( HR. Ahmad)

Renungkan kembali kata-kata penuh makna diatas. Bayangkan bahwa anda berada dalam bulan yang sifat dan keberkahannya demikian. Ia datang kepada anda tapi anda tidak memanfaatkannya karena berkeyakinan bahwa ia akan kembali dan terulang lagi. Sehingga ibadah anda di dalamnya tidak seperti ibadah orang yang berpamitan. Hingga waktu-waktunya menghilang dan rahmatnya pergi melewati anda. Maka tidaklah pantas pada saat itu jika anda di sebut sebagai orang yang mahruum (terhalang dari kebaikan)?!.

Sesungguhnya tujuan Rasulullah mengajarkan kepada kita agar kita menghindarkan diri dari penyakit menjadikan ibadah sekedar kebiasaan. Kalau begitu, mengapa kita tidak menghadirkan perasaan berpamitan dalam seluruh ibadah kita. Terlebih di bulan Ramadhan yang mulai ini?.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Mulai Konsultasi
Assalamualaikum, Ada yang bisa kami bantu?