Kiat Tidak Terjerumus Dalam Fitnah Kebinasaan

Sarana yang dapat melindungi diri agar tidakterjerumus dalam fitnah. Di antaranya,

Sabar terhadap perintah Allah.

Diriwayatkan oleh Abu Daud, no. 4341 dari Abu Tsa’labah Al-Khusani radhiallahu ahu dari Nabi sallallahu alaihi wa sallam, sesungguhnya beliau bersabda:

إن من ورائكم أيام الصبر ، الصبر فيه مثل قبض على الجمر ، للعامل فيهم مثل أجر خمسين رجلا يعملون مثل عمله. قيل : يا رسول الله أجر خمسين منهم ؟ قال: أجر خمسين منكم.

“Sesungguhnya orang di belakang kalian ada hari-hari (yang menuntut) kesabaran. Kesabaran pada waktu itu bagaikan memegang bara api. Orang yang beramal di antara mereka seperti mendapatkan lima puluh (pahala) orang yang melakukan seperti amalannya. Ada yang bertanya, ‘Wahai Rasulullah (apakah) pahala lima puluh di antara kalangan mereka?’ Beliau menjawab, ‘Pahala limapuluh di antara kalian (para shahabat).”

Memohon perlindungan kepada Allah dari fitnah yang tampak maupun yang tersembunyi.

Dalam hadits Zaid bin Tsabit radhiallahu anhu dalam Shahih Muslim, no. 2867 sesungguhnya Nabi sallallahu alaihi wa sallam suatu hari berkata kepada pada shahabat:

تعوذوا بالله من الفتن ما ظهر منها وما بطن، فقالوا : نعوذ بالله من الفتن ما ظهر منها وما بطن .

“Berlindunglah kepada Allah dari fitnah yang tampak maupun yang tersembunyi. Mereka (para shahabat) mengatakan, “Kami berlindung kepada Allah dari fitnah yang Nampak maupun yang tersembunyi.”

Merasa diawasi dan dijaga oleh Allah Azza Wa Jalla

Diriwayatkan oleh Tirmizi, no. 25516, sesungguhnya Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda:

احْفَظْ اللَّهَ يَحْفَظْكَ ، احْفَظْ اللَّهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ

“Jagalah (aturan) Allah, maka Allah akan menjaga anda. Jagalah (aturan)Allah, maka anda akan mendapatkan-Nya di hadap anda.”

Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata: ” kalimat ‘Jagalah (aturan) Allah, maka Allah akan menjaga anda’ menunjukkan bahwa jika seseorang selalu menjaga agama Allah, maka Allah akan menjaganya.

Akan tetapi menjaganya dari apa? Menjaga ajaran Allah dalam tubuhnya, harta, keluarga dan agamanya. Ini yang paling penting, yaitu menyelamatkan anda dari kesesatan. Karena seseorang setiap kali mendapatkan hidayah, maka Allah akan menambahi petunjuk “Dan orang-orang yang mendapatkan petunjuk, maka mereka akan ditambah hidayah dan diberikan kepadanya ketakwaan.” Adapun jika dia tersesat, kita berlindung kepada Allah (darinya), maka dia akan ditambah kesesatannya. (Syarh Riyadus shalihin, hal. 70)

Berteman dengan orang shaleh di kalangan orang mukmin dan tidak berteman dengan mereka yang mendapatkan fitnah.

Telah diriwayatkan oleh Abu Daud, no. 4918 dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dari Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam bersabda:

المؤمن مرآة المؤمن ، والمؤمن أخو المؤمن ، يكف عليه ضيعته ويحوطه من ورائه

“Seorang mukmin itu cermin bagi mukmin (lainnya). Seorang mukmin itu saudara mukmin. Menahan kerugiannya dan melindungi, menjaga serta membelanya sesuai dengan kemampuannya.”

Kalimat “Yakuffu ‘alaihi dhay’atahu’ yakni mencegahnya dari kerugian.

Dan kalimat ‘Yahuutu min waroihi’ yakni melindungi dan menjaga serta membelanya sesuai kemampuannya.

Diriwayatkan juga (dari Abu Daud), no. 4833 dari Abu Hurairah radhiallhu anhu sesungguhnya Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda:

الرجل على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل

“Seseorang itu (tergantung kepada) agama teman dekatnya. Maka, hendaknya setiap orang memperhatikan dengan siapa dia berteman dekat.” (Dihasankan oleh Al-Albany dalam Shahih Abu Daud)

Di antara faktor terbesar agar dapat konsisten dalam agama dan yang paling bermanfaat adalah tidak mendekati fitnah, dan bersegera membentengi dengan menjauhinya serta sebab-sebab (yang menjurus kesana). Sehingga kondis hati menjadi bersih dan dapat merasakan keimanan. Telah ada dalam hadits Dajjal sabda Nabi sallallahu’alaihi wa sallam:

مَنْ سَمِعَ بِالدَّجَّالِ فَلْيَنْأَ عَنْهُ ، فَوَاللَّهِ إِنَّ الرَّجُلَ لَيَأْتِيهِ وَهُوَ يَحْسِبُ أَنَّهُ مُؤْمِنٌ فَيَتَّبِعُهُ مِمَّا يَبْعَثُ بِهِ مِنْ الشُّبُهَاتِ.

“Barangsiapa mendengar (datangnya) Dajjal, maka hendaknya dia menjauhinya. Demi Allah, sesungguhnya seseorang akan mendatanginya dia mengira akan (tetap) beriman. Kemudian ternyata dia mengikutinya dengan syubhat yang dibawanya.” (HR. Abu Daud, 4319, dishahihkan oleh Al-Albany di Shahih Abi Daud)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Mulai Konsultasi
Assalamualaikum, Ada yang bisa kami bantu?