Kepada Siapa Pria Harus Meminang Wanita?

Pertama: Pada asalnya permintaan untuk menikahi wanita disampaikan kepada wali wanita tersebut.

Diriwayatkan dari Urwah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meminang Aisyah radhiyallahu ‘anha kepada Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, Abu Bakar berkata kepada beliau, “Aku ini hanyalah saudaramu.” Maka beliau bersabda, “Engkau adalah saudaraku dalam agama Allah dan Kitab-Nya, sementara Aisyah itu boleh kunikahi (bukan mahram).” (HR. Bukhari, no. 5081)

Kedua: Dibolehkan menyampaikan pinangan langsung kepada wanita bersangkutan jika wanita tersebut rasyidah (bijaksana).

Diriwayatkan dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, ia berkata,

لما مات أبو سلمة أرسل إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم حاطب بن أبي بلتعة يخطبني له فقلت: إن لي بنتاً وأنا غيور فقال: أما ابنتها فندعو الله أن يغنيها عنها، وأدعو الله أن يذهب الغيرة

“Ketika Abu Salamah wafat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Hathib bin Abu Balta’ah, dia meminangku untuk beliau. Kemudian aku mengatakan, ‘Sesungguhnya aku mempunyai seorang anak perempuan dan aku ini tipe pencemburu. Lalu ia berkata : “Adapun anaknya maka kami akan memohon kepada Allah agar mencukupkan dengannya dan aku akan memohon kepada Allah agar rasa cemburu itu dihilangkan.’” (HR. Muslim, no. 918; An-Nasai, 6:31)

Ketiga: Wali boleh menawarkan wanita yang berada di bawah perwaliannya kepada laki-laki saleh.

Orang tua yang saleh (Nabi Syu’aib ‘alaihis salam) berkata kepada Musa  ,

قَالَ إِنِّي أُرِيدُ أَنْ أُنْكِحَكَ إِحْدَى ابْنَتَيَّ هَاتَيْنِ عَلَىٰ أَنْ تَأْجُرَنِي ثَمَانِيَ حِجَجٍ ۖ فَإِنْ أَتْمَمْتَ عَشْرًا فَمِنْ عِنْدِكَ ۖ وَمَا أُرِيدُ أَنْ أَشُقَّ عَلَيْكَ ۚ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّالِحِينَ

“Berkatalah dia (Syu’aib): “Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun dan jika kamu cukupkan sepuluh tahun maka itu adalah (suatu kebaikan) dari kamu, maka aku tidak hendak memberati kamu. Dan kamu Insya Allah akan mendapatiku termasuk orang-orang yang baik”.” (QS. Al-Qashshash: 27)

Dalil lainnya yang menunjukkan boleh seorang wali menawarkan wanita di bawah perwaliannya adalah kisah Hafshah binti Umar. Umar radhiyallahu ‘anhu turut berduka bagi putrinya yang masih muda dan harus menjada dalam usia 18 tahun. Umar radhiyallahu ‘anhu merasa terpukul melihat status janda yang harus diemban oleh putrinya. Status janda yang menguras hidupnya dan melilit masa remajanya.

Ayahnya Umar berusaha untuk menawarkan putrinya kepada Abu Bakar dan Utsman bin ‘Affan. Keduanya enggan karena tahu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mau maju melamarnya.

Akhirnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahi Hafshah pada tahun 3 H (sebelum perang Uhud) dengan mahar sebesar 400 dirham. Saat itu pula, Utsman menikahi Ummu Kultsum setelah meninggalnya Ruqayyah yang menjadi istri Utsman sebelumnya.

Setelah Umar menikahkan Hafshah, Abu Bakar menemuinya dan menyampaikan alasan dengan mengatakan,

فَإِنَّهُ لَمْ يَمْنَعْنِي أَنْ أَرْجَعَ إِلَيْكَ فِيْمَا عَرَضْتَ عَلَيَّ إِلاَّ أَنِّي كُنْتُ عَلِمْتُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ ذَكَرَهَا ، فَلَمْ أَكُنْ لَأُفْشِي سِرَّ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَلَوْ تَرَكَهَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَبَلْتُهَا.

“Jangan kesal kepadaku, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyebut nama Hafshah. Aku tidak mau mengungkapkan rahasia beliau. Dan seandainya beliau meninggalkannya, niscaya aku menikahinya.” (HR. Bukhari, no. 5122)

Keempat: Wanita boleh menawarkan dirinya kepada laki-laki saleh untuk dinikahi.

Diriwayatkan dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Seorang wanita mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menawarkan dirinya. Wanita itu berkata, “Wahai Rasulullah, apakah engkau berkenan menikahiku?” Putri Anas berkata, “Alangkah buruk dan tidak tahu malu wanita itu.” Aku (Anas) berkata, “Wanita itu lebih baik darimu. Dia suka kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu menawarkan dirinya kepada beliau.” (HR. Bukhari, no. 5126 dan Muslim, no. 1425)

Hal ini dibolehkan selama memang aman dari fitnah (godaan). Akan tetapi, jika berterus-terangnya seorang wanita kepada laki-laki bahwa dirinya ingin dinikahi dapat menimbulkan godaan besar, hal itu tidak dibolehkan karena akan menimbulkan kerusakan, sedangkan Allah tidak menyukai kerusakan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Mulai Konsultasi
Assalamualaikum, Ada yang bisa kami bantu?